Minggu, 04 Oktober 2009

Generasi Tanpa Karakter

“Generasi tanpa Karakter”

Oleh: Pdt.Maruasas S.P Nainggolan S.Si (Teol)


Pendahuluan
Kita bisa sukses atau hancur gara-gara kebiasaan kita. Kita menjadi apa yang berulang-ulang kita lakukan. Seperti yang dikatakan oleh penulis Samuel Smiles: Taburkanlah suatu pikiran, maka kamu akan menuai perbuatan;
Taburkanlah suatu perbuatan, maka kamu akan menuai kebiasaan;
Taburkanlah suatu kebiasaan, maka kamu akan menuai karakter;
Taburkanlah suatu karakter, maka kamu akan menuai takdir.

Takdir Indonesia sudah bisa kita prediksi 20 tahun ke depan jika pemikiran, perbuatan, kebiasaan dan karekater generasi muda Indonesia seperti yang kita lihat sekarang ini. Indonesia adalah negara yang paling plural di dunia, plural berarti majemuk. Dari Sabang sampai Merauke, terantang di atas ribuan pulau sejauh lebih dari 5000 km, dengan ratusan bahasa, suku dengan adat budaya sendiri-sendiri, serta hampir semua agama yang ada di dunia juga ada. Maka jelaslah bahwa Indonesia hanya bisa bersatu kalau kemajemukan itu diakui. Segala usaha untuk menyamaratakan semua dengan suatu pola budaya atau agama adalah sama dengan dominasi sebagian warga di atas yang lain-lain dan pasti akan mengakibatkan kehancuran Indonesia. Indonesia terlalu besar untuk dipertahankan kesatuannya hanya dengan cara-cara paksa. Setiap kelompok dan komponen bebas hidup menurut cita-citanya sendiri, tetapi tidak ada kelompok satupun yang boleh memaksakan cita-cita atau keyakinannya kepada yang lain.

Di balik itu semua banyak persoalan nasional yang timbul antara lain: masalah KKN yang sudah merupakan penyakit bangsa. Praktik KKN yang sudah menjadi warisan pemerintahan penjajahan di mana “power is privilege”. Kolusi penguasa dan pengusaha yang sudah berlangsung sejak lama. Praktik KKN ini telah membawa bangsa terpuruk dalam krisis multidimensi. Persoalan berat itu tidak boleh membuat bangsa ini menyerah. Melalui reformasi pemuda harus melakukan perubahan yang terus-menerus, terarah, dan bertahap. Keinginan untuk meraih cita-cita bangsa tidak pernah berhenti dari rintangan. Selain itu sama-sama memikirkan, apa yang perlu dilakukan bersama-sama menyikapi bencana alam yang sering di Indonesia dan “bencana ekonomi” yang semakin parah.

Generasi Muda Indonesia
Dalam sebuah tulisannya Eka Darmaputera mengatakan, “Generasi muda seolah-olah hanya memiliki tiga pilihan dalam menghadapi status quo dan kemapaman di sekitar mereka yaitu melarikan diri, menghanyutkan diri, menjadi amat reaktif dan agresif.” Keadaan yang ada tidak memberi tempat kepada generasi muda baik untuk menghadirkan kedirian mereka secara otentik maupun untuk bertumbuh secara kreatif. Setiap manusia membutuhkan ruang hidup dan ruang gerak. Ketika hampir semua pintu masuk telah tertutup, generasi muda akan masuk kepintu-pintu yang masih terbuka bagi mereka. Sebagian memasuki pintu kemewahan dan kenikmatan sebagian yang tidak mampu cuma menunggu-nunggu kesempatan di luar pintu terpuruk dalam fatalisme. Sebagian yang tidak mampu, kurang sabar dan menjadi preman bahkan radikal.

Bisakah kita menciptakan suatu kondisi serta atmosfir yang memungkinkan genarasi muda mengembangkan potensi mereka sendiri dengan seoptimal mungkin, memberi ruang gerak, dorongan, pintu-pintu kesempatan. Dan ini semua hanya mungkin bila kita memberikan kepada mereka kemungkinan untuk mengaktualisasikan diri serta mengekspresikan kedirian mereka. Generasi muda sekarang dipacu dan diburu untuk mengejar sukses dalam arti eksternal dan material. Meraih kedudukan setinggi-tingginya, memiliki kekayaan sebanyak-banyaknya, menikmati kemewahaan dan kesenangan sebesar-besarnya. Sukses yang lebih banyak ditentukan oleh oleh what you have? bukan what you are? Oleh how much you have bukan how good you are?

Di dalam masyarakat sekarang ini karakter seperti kejujuran, integritas, moral, keberanian dan sebagainya justru menutup banyak pintu kesempatan dan kemungkinan. Sebaliknya sukses membuka lebar-lebar hampir semua pintu. Bersama Bagaimana orang tidak tergoda. Genarasi muda sekarang dibiarkan tumbuh di dalam dunia yang tanpa karakter. Keadaan di mana solidaritas atas dasar kemanusiaan bersama sedang mengalami pergeseran yang teramat cepat. Kesadaran kelompok berpikiran sempit semakin menyubur.

Kita mengetahui selain pergeseran dari budaya komunikasi lisan ke budaya komunikasi tertulis muncul lagi perubahan lain yang cukup dahsyat, yaitu kehadiran televisi dan Internet. Media komunikasi ini ternyata mempengaruhi pola pikir, emosi dan perilaku kawula muda secara mencolok dan kuat, mereka banyak melihat kejadian apa yang terjadi dan mencoba bergaya dan meniru gaya-gaya kawula muda di negara lain atau tempat lain yang mereka suka. Kawula muda menyikapi hal ini sering mengespresikan dirinya melalui aksi atau penampilannya sehari-hari yang coba mereka tunjukkan keruang publik. Dengan keadaan seperti ini para kawula muda secara besar-besaran mengkonsumsi apa-apa saja yang mereka gandrungi misalnya gaya hidup, prodak-prodak busana dan kosmetik yang menjadi simbol suatu kumpulan atau suatu kejadian yang menurut mereka menarik atau menantang, sebagai simbolpergerakandankebersamaan.

Generasi Muda yang Berkarakter
Peran pemuda dalam hal ini, tentunya sudah menyadari kamejemukan dan pluralisme yang ada di Indonesia. Para pemuda harus membawa diri dengan rendah hati, tahu diri, siap ditegur, siap belajar, siapa diminta pertanggungjawaban dan siap memperbaiki diri. Orang yang betul-betul tahu tentang Allah, tahu juga betapa pengertiannya sendiri termasuk pengertiannya tentang agamanya sendiri teramat terbatas. Ia harus rendah hati dan tidak arogan.

Munculnya kesadaran bahwa kita perlu merumuskan sikap iman yang memadai dalam menjawab realitas kepelbagian. Kita harus menyatakan bahwa pencarian sikap yang dewasa dan jujur terhadap kemejemukan itu merupakan keharusan iman sendiri. Beriman, sebagai orang beragama dalam konteks majemuk, seharusnya mendorong kita untuk juga menetap dan berkata sesuatu terhadap saudara-saudara beriman lain dengan mata iman.

Beberapa pertanyaan mendasar adalah: Sejauh mana kita memahami klaim universalitas kasih Allah kepada dunia ini? Seberapa jauh kita harus melihat posisi agama di tengah komunitas global dan akhirnya, seberapa jauh agama berani melangkah bersama dengan orang yang beriman lain dalam berkarya menghadirkan damai sejahtera di bumi.
Maka dalam semangat keyakinan iman yang sama, mungkin kita juga harus mengatakan bahwa masyarakat majemuk Indonesia adalah anugerah agung yang kita terima dari Tuhan. Indonesia adalah masyarakat majemuk dan itu adalah anugerah agung Allah untuk kita rawat, untuk kita kembangkan-bukan untuk kita acak-acak, dan kita harus menyadari bahwa Tuhan menciptakan masyarakat Indonesia untuk majemuk. Bukan masyarakat yang terpisah dan terpecah-pecah. Bukan pula masyarakat yang homogen, monolitik dan uniform. Persoalan kita adalah, bagaimana agar kemajemukan Indonesia tidak terganggu. Generasi muda harus melaksanakan tanggungjawab agama kita dengan lemah lembut dan hormat dan dengan hati nurani yangmurni”.

Generasi muda mengajak untuk bisa mengembangkan dan membangun jembatan-jembatan persahabatan berdasarkan saling respek dan saling menghormati, intensifikasi dialog-dialog dan kerjasama, kesesuain timbal-balik. Dialog akan berupaya membuka pintu-pintu pemahaman yang lebih baik diantara orang yang berbeda kepercayaan dan tradisi keagamaan. Horison kehidupan seseorang hanya akan diperlebar kalau kita belajar memahami sesama melalui dan di dalam pertemuan antar pribadi. Bertemu dengan sesama menjadikan kita melihat diri sendiri dengan cara baru. Dalam suatu perjumpaan yang sejati kita dapat belajar sama banyaknya tentang diri kita sendiri dan juga tentang sesame kita itu. Melalaui dialog ini kita menerima kepelbagaian dan mengakui kemajemukan tanpa upaya mencampur dan menggabungkan tradisi keagamaan yang berbeda.

Dalam tahun Diakonia ini, Pemuda HKBP harus lebih banyak berkarya dan terberdayakan, menjadi alat kontrol dan alat koreksi dengan mampu menjelaskan duduk perkara dari sebuah persoalan baru yang timbul di dalam masyarakat agar masyarakat khususnya warga jemaat bisa menarik kesimpulan dari informasi yang diperoleh. Pemuda gereja juga diharapkan bisa membuat warga jemaat dan masyarakat bukan hanya tercerdaskan, tetapi tercerahkan (Communicator of hope). Membangun kesadaran bersama akan tantangan yang dihadapi. Menggalang berbagai pemikiran yang ada di tengah masyarakat untuk bagaimana menyelesaikan persoalan bangsa. Memberikan alternatif pemecahan yang mungkin bisa dilakukan. Dalam sistem yang demokratis menggugah rasa tanggung jawab dari semua komponen bangsa untuk ikut terlibat dalam memecahkan persoalan bangsa.
Menunjukkan secara jelas contoh-contoh yang tidak baik. Mengangkat orang-orang yang baik, yang bisa dijadikan teladan dan bisa menginspirasi orang lain.

Mengembangkan jurnalisme empati agar bisa melihat persoalan dari banyak segi dan membangunkan harapan. Tidak hanya terbatas dalam menggalang pemikiran. Ikut serta terlibat aktif dalam mengajak masyarakat untuk turut bertindak, khususnya dalam kegiatan sosial. Membuka dompet kemanusiaan yang bisa menggugah rasa tanggung jawab masyarakat. Mempertanggungjawabkan secara profesional kepercayaan yang diberikan oleh warga jemaat dan masyarakat. Sikap gotong-royong dan tolong menolong yang kuat di tengah masyarakat. Setiap terjadi bencana yang berskala nasional membuat masyarakat terdorong untuk memberikan bantuan.
Salam tahun Diakonia, “Sejahtera Masyarakat; Sejahtera Gereja.

* Penulis sekarang melayani sebagai Sekhus Kadep Diakonia

Tidak ada komentar: