Selasa, 25 Mei 2010

Begu Ganjang

Dengan hormat.
Pertama saya sampaikan turut berdukacita atas meninggalnya ibu Taradina Situmeang dan anaknya Tigor Manik di Tapanuli Tengah. Kiranya Bapa di Sorga menghibur dan menguatkan seluruh keluarga.

Saya membaca pendapat bapa Prof Dr. Hotman Siahaan tentang begu ganjang yang dimuat di BATAKPOS, Senin, 14 September 2009. Perlu klarifikasi tentang pendapat beliau yang mengatakan bahwa “sejak dulu, begu ganjang itu sudah ada di kalangan dukun-dukun Batak”. Di dukun-dukun Batak yang mana maksud pak Siahaan? (Batak Toba, Karo, Simelungun, Pakpak/Dairi atau Angkola?). Jika itu dimaksudkan di Batak Toba, menurut saya tidak benar. Alasan saya mengatakan demikian al.:
1. Istilah begu ganjang tidak ditemukan di kamus Batak Toba, kecuali yang dibuat-buat sendiri saat ini. J. Warneck (Ephorus HKBP 1920-1932) dalam Kamus Batak Toba Indonesia (terjemahan tahun 2001) tidak ada menyebut begu ganjang padahal dia banyak menyebut jenis-jenis begu al. begu antuk, begu sorposorpo, begu ladang, begu abar, begu na masa, begu nurnur, begu sampu, begu sorngot, begu siar, begu jau, begu toba, begu laos, begu siharhar, begu surpusurpu, begu sorpa, begu pana, begu rojan,begu laut, begu sirumata, begu namora dan begu robeanon. Warneck memberi penjelasan tentang jenis-jenis begu tersebut agar para misionar memperhatikan hal ini sebagai bagian dari penginjilan di Tanah Batak.
2. Perlu penelitian, sejak kapan istilah begu ganjang timbul di masyarakat Batak Toba.

Mengapa perlu klarifikasi ini? Jika kita mengaku sudah sejak dulu ada begu ganjang di masyarakat Batak Toba maka benarlah pendapat pak Siahaan bahwa pemuka agama di tanah Batak Toba gagal. Mereka gagal membina umatnya untuk membuang begu ganjang. Apakah dalam arti yang demikian yang dimaksudkan pak Siahaan atau ada pengertian lain?
‘Ilmu hitam’ yang dikenal masyarakat Batak Toba, seperti santet di pulau Jawa disebut pangulubalang. Konon, membuat pangulubalang ialah dengan mengorbankan seorang anak laki-laki dengan cara memaksa si anak meminum cairan timah panas. Kemudian jasadnya dibakar sampai gosong jadi abu dan minyak tubuhnya ditampung dan dicampur dengan debu jasadnya itu. Sebagai perwujudannya dibuatlah patung manusia, itulah yang “disuruh” oleh dukun membunuh orang. Mungkinkah masih ada tindakan yang sadis ini di Tanah Batak saat ini? Jika ini masih ada lebih baik kita jujur mengatakannya pangulubalang bukan begu ganjang.
Jikalau di satu sub etnik Batak (diluar Batak Toba) ada begu ganjang apakah sebutannya dalam bahasa Batak Toba dan dapat juga berfungsi di masyarakat Batak Toba? Misalnya santet di pulau Jawa apakah bisa hidup di Tanah Batak juga dengan istilah santet? Jikalau kita mengaku bahwa ada begu ganjang maka upaya pemberantasan kasus tersebut akan sangat sulit dan kita terjebak mempercayai yang tidak kita kenal sebelumnya dalam masyarakat kita.
Tugas kita saat ini (bukan hanya pendeta) ialah meyakinkan masyarakat Batak Toba bahwa begu ganjang itu tidak ada. Untuk itu orang-orang Batak Toba perlu membuat tulisan-tulisan, seminar-seminar untuk membicarakan secara ‘ilmiah’ apa itu begu ganjang; asal-usulnya (benda dan namanya), cara pembuatannya, cara pemeliharaannya dan fungsinya. Jika tidak ada yang mampu menjelaskannya maka begu ganjang tidak pernah ada dalam kebudayaan Batak Toba.

Horas.
Pdt.Maruasas Nainggolan
Sumber dari Pdt.Pantas Panggabean.

Tidak ada komentar: