LOVE
By: C.Pdt. Maruasas.S.P Nainggolan S. Si (Teol)
Cobalah kita berpikir jernih. Kita mencintai seseorang. Tetapi siapa yang menjamin bahwa orang itu juga mencintai kita? Kita membuat pilihan cinta, itu berarti kita mempunyai kebebasan. Kalau kita mempunyai kebebasan untuk menentukan, bukankah orang itu juga perlu diberi kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri?
Sorotan matanya, senyumnya. Kenapa kita bisa tertarik, suka dan mencintai seseorang?
Mungkin ini yang dikatakan orang bahwa kita sedang jatuh cinta. Namanya juga jatuh, terjadinya mendadak tanpa dipikir dulu dan berlangsung hanya sementara waktu. Sesudah jatuh kita berdiri lagi. Apa yang terjadi ketika kita terbangun dari jatuh cinta? Pikiran dan perasaan kita akan berubah. Ternyata ada orang lain yang sorotan mata dan senyumnya juga menarik. Ternyata ada orang lain yang juga kita sukai.
Sebab itu, terkadang kita tidak bisa pasang patok harga mati, aku hanya mencintai dia dan hanya menikah dengan dia. Sepertinya kita perlu memberi kebebasan kepada diri sendiri, pergaulan yang luas dan terbuka dan memberi kebebasan memilih kepada pacar kita. Sebenarnya berbicara tentang cinta adalah pergumulan yang pelik (dengan siapa nanti aku hidup). Selalu ada pertimbangan- pertimbangan untuk menjatuhkan pilihan. Menganalisa diri kita dan diri si dia. Apakah faktor-faktor kelemahan dan kekutan yang ada pada kita? Kesamaan yang sama dengan si dia. Dalam hal-hal apa terjadi kecocokan dan hal-hal apa tidak ada kecocokan? Apa resikonya? Apakah aku bersedia memikul resiko itu?
Kerelaan untuk berkorban. Memberi tanpa syarat. Tanpa banyak menuntut ini dan itu. Cinta dengan tujuan supaya menerima adalah cinta yang bersyarat, cinta yang egois.
Kepercayaan adalah salah satu landasan utama cinta. Tidak mungkin kita mencintai seseorang tanpa mempercayainya. Kepercayaan itu tidak datang dengan sendirinya, dia harus ditumbuhkan dan dijaga. Caranya melalui kesetiaan. Dan kesetiaan ini dimulai dari hal-hal kecil. Kita tidak bisa mengarapkan seseorang akan tetap setia seumur hidup, kalau janjinya saja sering tidak ditepati, atau bohong melulu. Cinta dan komitmen adalah dua hal yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisakan.
Dalam persahabatan tidak ada lagi “aku” atau “kamu”. Yang ada adalah kita. Bukan ceritaku atau ceritamu, tetapi cerita kita. Cinta tanpa persahabatan seumpama sungai dimusim kemarau panjang; kering tidak ada kesejukan. Tidak ada keteduan atau gersang.
Harus kita akui daya tarik fisik entah raut wajah, bentuk tubuh, atau hal-hal jasmaniah lainnya adalah anugerah Tuhan. Karenanya itu penting. Dan hal itu bisa menjadi bumbu penyedap dalam relasi cinta antara pria dan wanita. Namun jangan mencintai seseorang dari segi fisik saja. Daya tarik fisik ini sifatnya sangat individual. Bagi orang lain doi mungkin biasa-biasa saja, tapi bagi kita yang jatuh cinta, ia bisa sangat menarik.
Seberapa besar cinta si doi kepada kita, hal di atas bisa menjadi ukuran. Jadi cinta bukan hanya soal rasa, tetapi juga akal sehat. Cinta bukan hanya bukan hanya soal menerima tetepi juga memberi. Cinta bukan hanya cerita tentang cerita indah, tetapi juga tentang sedih perih yang kadangkala tidak terhindarkan.
Mencintai seseorang itu
Adalah ketika kita menerima kesalahan dia,
Karena itu adalah bagian dari kepribadiannya.
Ketika kita rela memberikan hati, kehidupan bahkan kematian.
Ketika hati tercabik bila sedih
Dan berbunga bila ia bahagia
Ketika kita menangis untuk kepedihannya
Biarpun ia cukup tegar menghadapinya
Ketika kita tertarik pada orang lain
Tetapi kita masih setia bersamanya
Cinta adalah pengorbanan
Mencintai berati memberi diri
Cinta adalah kematian atas egoisme dan egosentrisme
Kadang itu menyakitkan
Tetapi itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar