Rakyat Kembali Meringis, Gereja Tolonglah!
By: Pdt. Maruasas S.P Nainggolan S.Si (Teol)
Saat ini kemiskinan dilihat tidak lebih sebagai tampilan dari deretan angka dan data. Oleh karena itu kesuksesan pemberantasan kemiskinan diindikasikan dengan turunnya jumlah angka yang mempersonifikasikan rakyat miskin, tentunya dengan usaha-usaha jargon-jargon pembangunan, pengentasan kemiskinan dan pemeretaan pembangunan.
Hati kembali meringis ketika membaca Artikel Ranto Gunawan Simamora yang berjudul Rakyat Kian Dekat Dengan Kematian, Tolonglah! Dia mengutip berita Kompas di bulan April 2008, laporan sebuah majalah AS (Foreign Policy). Dari 60 negara yang paling gagal, RI berada di urutan 55. Indonesia dikategorikan gagal karena negara tidak mampu memajukan kesejahteraan rakyatnya. Pemerintah mencatat ada 37,2 juta jiwa yang miskin. Tetapi jika menggunakan headcount rate/2 dollar/hari, ada 100,7 juta jiwa. Angka diperkirakan bertambah 4,5 juta jiwa pasca naiknya harga BBM.
Dalam tulisannya ia menyorot kehidupan rakyat yang semakin kesulitan untuk memenuhi kehidupan yang layak dikondisikan” oleh karena beberapa pihak, antara lain: perbankan lebih tertarik memberikan kredit kepada kreditor-kreditor besar. Lemahnya pemerintah yang mengakibatkan pelayanan sosial yang cenderung karitatif, kurangnya regulasi untuk mengatasi kesenjangan kaya-miskin, terbatasnya lapangan pekerjaan, maraknya korupsi, APBN menjadi pelestari birokrasi biaya tinggi, dan kebijakan-kebijakan yang tidak pro-rakyat. Para politisi yang cenderung memikirkan kekuasaan: produk-produk legislasi makro-ekonomi berkiblat pada pasar-investasi, serta minimnya dukungan politik kepada “rakyat”. Pemiskinan yang diakibatkan oleh proses globalisasi yang tak terhindarkan. Beberapa kebijakan yang dikondisikan oleh globalisasi khususnya kebijakan pasar bebas (lebih menguntungkan para kapitalis), harga BBM di pasar internasional yang kian melangit, “tekanan” kepada negara-negara miskin melalui Bank Dunia dan IMF, harga berbagai komoditas pangan di level perdagangan dunia bergejolak, serta meningkatnya individualitas.
Sebelum terjadi krisis ekonomi, Indonesia telah memiliki beban hutang yang besar dalam bentuk pinjaman luar negeri. Sampai tahun 2002 hutang Indonesia diperkirakan sebesar 262 milyar dolar AS. Menurut John Pilger, tidak ada hutang yang demikian besarnya di dunia ini. Hutang itu tidak akan pernah dapat dibayar karena merupakan sebuah lubang yang tak beralas (Pilger, 43; 2002). Terlebih lagi bagi para pemegang kekuasaan, termasuk legislatif. Mereka diberi otoritas oleh Rakyat, juga oleh Tuhan (vox vovuli vox Dei). Karena itu, hendaknya kekuasaan itu seluruhnya diperjuangkan untuk melayani rakyat, bukan melayani diri sendiri dan/atau kelompok (agama, suku, terlebih partai). Elite kekuasaan harus memiliki perilaku pelayan: populis, anti-pemiskinan, anti-feodalisme dan nepotisme, anti-korupsi, berkomitmen terhadap emansipasi kemanusiaan untuk semua orang. Politisi mesti “bersinergi” dengan pemerintah, berkiblat pada rakyat.
Pelayanan karitatif memang perlu (seperti BOS, Askeskin, Jamsostek, bukan BLT), tetapi program anti kemiskinan lebih diperlukan: program padat karya, penguatan kemandirian masyarakat melalui pengembangan UMKM, program stabilisasi harga, dan subsidi kepada para petani. Regulasi untuk mengurangi kesenjangan pengggajian sangat mendesak (contoh saat ini: Dirut BUMN Rp 100 juta/bulan; guru besar di Perguruan Tinggi Rp 3 - 5 juta/bulan; buruh pabrik Rp 900 ribuan). Berbagai pungli dan “setoran” diberantas dan hukum ditegakkan demi memberi kepastian orang untuk berinvestasi. Pemberantasan korupsi dilakukan dengan tegas dan berani. “Pembersihan” di kalangan para polisi, jaksa, dan hakim adalah wajib hukumnya. Belanja sosial di dalam APBN diberikan secara proporsional, bukan dikurangi.
Teringat dengan perkataan Gustavo Gutierrez, “Kaum miskin merupakan hasil sebuah sistem di mana kita hidup dan bertanggungjawab. Mereka disingkirkan dunia sosial dan kultural kita. Mereka adalah kaum yang ditindas, proletar yang dihisap, yang hasil kerja mereka dicuri dan kemanusiaan mereka diinjak-injak. Orang miskin tidak hanya mengalami kekurangan secara ekonomis tetapi juga kehilangan martabat manusia sebagai mahluk kultural yang autentik. Kemiskinan muncul akibat sistem sosial yang ada. Mereka kehilangan jaminan sosial dan ekonomis.
Bagimana dengan gereja-gereja di Indonesia menyikapinya? Gereja-gereja di Indonesia itu hebat, melihat gereja-gereja di Indonesia amat hidup. Kebaktian-kebaktian penuh dikunjungi warga jemaat. Pada hari-hari tertentu bahkan meluap tak tertampung. Gedung-gedung gereja baru dibangun terus di mana-mana, bagaikan jamur di musim penghujan. Ada yang megah ada pula yang amat sederhana. Tetapi rasanya berapa pun banyaknya gedung gereja dibangun, tidak pernah cukup. Ironis sekali, banyak gereja yang besar dan mewah tetapi tidak bisa berbuat apa-apa bagi lingkungannya. Dengan melihat kondisi sosial dan ekonomi Indonesia yang saat ini sangat memprihatinkan sekali. Sepertinya pemahaman beribadah yang dipahami hanya sebatas pergi ke gereja, dan menutup diri terhadap kehidupan yang ada di luar gereja.
Warga jemaat sibuk mencari bentuk yang baru kehadiran gereja, yang didasari lebih dari sekedar selera belaka ketimbang kesadaran kritis pemulihan dan pemberian makna bagi eksistensi gereja yang memudar. Gereja tidak bisa berbuat apa-apa di dalam menghadapi perubahan sosial dan perkembangan zaman. Ketiadaan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Menutup diri terhadap persoalan-persoalan dunia luar yang lebih luas, dan membiarkan diri terlarut dalam persoalan-persoalan internal yang tak habis-habisnya. Membesar-besarkan persoalan kecil; sebaliknya meremehkan persoalan yang besar. Gereja sering lupa pada tugas pokok kenapa ia ada di dunia ini. Ia tidak lagi menghayati hakikat dirinya sebagai pelaksana misi Allah bagi dunia ini, sebagai penyalur kasih Allah untuk dunia ini. Gereja mau memberi, kalau gereja sendiri sudah merasa berkecukupan. Nyanyian-nyanyian yang terdengar memang sangat indah dan menarik, upacara-upacara di dalamnya memang enak dilihat, arsitektur gedungnya indah, tetapi apakah kita merasa mendapatkan sesuatu di gereja? Gereja hanya hadir untuk dirinya, gereja hanya persekutuan yang eksklusif, gereja hanya memikirkan ketenteramannya sendiri. Sesuatu yang bukan mengherankan lagi jika banyak orang yang iri melihat kita, gedung gereja dihancurkan dan dibakar. Seperti yang diinformasikan Kepala Departemen Diakonia Pdt. Nelson Siregar, bahwa saat ini HKBP Depok tidak diberikan izin berdiri.
Yang sering menjadi kenyataan, pelayanan ke dalam kemudian menjadi tujuan pokok, dan pelayanan ke luar adalah pekerjaan sambilan kalau ada waktu dan dana yang tersisa. Memperkuat diri ke dalam tidak lagi menjadi alat melayani keluar. Sanggup membangun gedung-gedung indah tanpa risi melihat sesama yang hidup tanpa rumah, sanggup berpesta pora tanpa prihatin terhadap sesama yang menderita. Ketika kita sanggup bernyanyi, tanpa perlu membagi tawa dan ria pada sesama. Gereja harus bertanggung jawab untuk ambil bagian untuk menciptakan struktur masyarakat yang adil yang dimulai dengan protes atas kenyataan ketidakadilan yang ada. Gerakan kesetiakawanan dan solidaritas. Percaya diri dari kaum miskin sendiri, dalam hal ini spritualitas yang dikembangkan. Dari budaya sikap acuh tak acuh menjadi peduli dan memiliki rasa percaya diri untuk memperjuangkannya. Perlu ada bentuk solidaritas bersama dan dialog antar umat beragama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan memerangi kemiskinan.
Bagi konteks Indonesia, hal ini demikian relevan dengan kenyataan yang pluralistik. Kemiskinan adalah masalah bersama, yang harus ditanggulangi oleh masalah bersama, yang harus ditanggulangi oleh segenap komponen bangsa. Dengan melakukan Usaha Kesejahteraan Sosial dengan menggunakan pelayanan dalam bentuk, humanitarian aid, emergency response, dll. Bergerak juga dalam aras reformatif yaitu pada pemberdayaan masyarakat (community development) melalui usaha-usaha pendampingan pertanian, peternakan, credit union, usaha kecil dan tentunya dalam aras transformatif pada tingkat penyadaran akar rumput dan pengorganisasian masyarakat (community organizing), advokasi rakyat maupun kebijakan, bantuan hukum, kesadaran pluralisme, peace building dan resolusi konflik.
Kedatangan Yesus, utusan Allah, untuk mewartakan kabar baik kepada kaum miskin (lih. Luk 4:18) diyakini oleh para murid Yesus sebagai wujud kesetiaan Allah pada perjanjian yang sudah dianugerahkan kepada umat-Nya. Allah selalu setia terhadap janji-Nya, “Aku Allahmu, kamu umat-Ku,” juga kalau umat tidak setia. Yesus adalah Perjanjian Baru antara Allah dan kaum miskin, Good-poor partnership. Oleh karena itu, Yesus adalah tanda kontradiksi antara Allah dan mamon, God-Mammon conflict. Yesus diimani hadir terus sebagai Kristus yang hidup, Pribadi Kolektif (Corporate Person), yang dijadikan satu tubuh dengan para korban Mamon, dengan mereka yang merupakan wakil-wakil Kristus di dunia ini. Gereja menjadi gereja kalau bersatu dengan kaum miskin dan tertindas, kaum marginal, mereka yang menjadi korban mamon, orang-orang yang menderita. Sebagaimana Yesus adalah tanda kontradiksi antara Allah dan mamon, God-Mammon conflict, demikian pula selayaknya gereja yang menyandang simbol dan tubuh Kristus.
Kaum miskin adalah para korban mamon. Mereka itulah para wakil Kristus di dunia sekarang ini. Mereka adalah saudara-saudara Yesus yang paling hina. Kaum miskin kategori yang berlaku sebagai hakim eskatologis akhir zaman (Mat.25:36 dst). Mereka lah yang menerima cinta kasih kita dalam nama Kristus, dan oleh karena itu membuka pintu gerbang Kerajaan Allah bagi kita. Mereka terpaksa miskin. Para penyembah mamon mengatur rumah tangga dunia (oikonomia) ini secara keliru. Sebab utama kemiskinan mereka adalah interaksi yang tidak adil dalam masyarakat. Sebagaimana kaum kaya dan kaum miskin ini adalah para pendosa juga.
Kenyataan hidup mereka sebagai korban yang menderita merupakan satu-satunya dasar mengapa mereka dipilih. Kesucian mereka terletak dalam menanggapi panggilan sebagai mitra perjanjian Allah, sebagai kekuatan yang membebaskan dalam dunia. Kaum miskin yang lain adalah para pengikut Kristus, para penolak mamon. Mau hidup misik secara sukarela untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah sebagaimana yang ditawarkan oleh Yesus. Kemiskinan yang sering disebut kemiskinan injili, sebab dijalani demi injil. Memberitakan Kabar Gembira
Kerajaan Allah kepada kaum miskin (kategori pertama). Kaum miskin injili menerima tugas pengutusan melalui solidaritas terhadap mereka yang secara sosial miskin. Kaum miskin katergori yang inilah yang dimaksud para pengikut Yesus dan para penolak mamon. Love is Action, Cinta Kasih adalah Tindakan. Adanya pergeseran penalaran yakni dari kepedulian akan hak milik pribadi ke kepedulian terhadap kaum miskin. Gereja yang memihak kepada kaum miskin merupakan wujud gereja kaum miskin yang setia kepada Yesus Kristus, yang miskin dan rendah. Gereja semacam itu akan berusaha berada bersama Yesus sebagai wujud kehadiran Allah dan tindak konflik antara Allah dan mamon.
Penulis sekarang bertugas di Kantor Pusat HKBP
Sekretaris Khusus Kadep Diakonia HKBP
By: Pdt. Maruasas S.P Nainggolan S.Si (Teol)
Saat ini kemiskinan dilihat tidak lebih sebagai tampilan dari deretan angka dan data. Oleh karena itu kesuksesan pemberantasan kemiskinan diindikasikan dengan turunnya jumlah angka yang mempersonifikasikan rakyat miskin, tentunya dengan usaha-usaha jargon-jargon pembangunan, pengentasan kemiskinan dan pemeretaan pembangunan.
Hati kembali meringis ketika membaca Artikel Ranto Gunawan Simamora yang berjudul Rakyat Kian Dekat Dengan Kematian, Tolonglah! Dia mengutip berita Kompas di bulan April 2008, laporan sebuah majalah AS (Foreign Policy). Dari 60 negara yang paling gagal, RI berada di urutan 55. Indonesia dikategorikan gagal karena negara tidak mampu memajukan kesejahteraan rakyatnya. Pemerintah mencatat ada 37,2 juta jiwa yang miskin. Tetapi jika menggunakan headcount rate/2 dollar/hari, ada 100,7 juta jiwa. Angka diperkirakan bertambah 4,5 juta jiwa pasca naiknya harga BBM.
Dalam tulisannya ia menyorot kehidupan rakyat yang semakin kesulitan untuk memenuhi kehidupan yang layak dikondisikan” oleh karena beberapa pihak, antara lain: perbankan lebih tertarik memberikan kredit kepada kreditor-kreditor besar. Lemahnya pemerintah yang mengakibatkan pelayanan sosial yang cenderung karitatif, kurangnya regulasi untuk mengatasi kesenjangan kaya-miskin, terbatasnya lapangan pekerjaan, maraknya korupsi, APBN menjadi pelestari birokrasi biaya tinggi, dan kebijakan-kebijakan yang tidak pro-rakyat. Para politisi yang cenderung memikirkan kekuasaan: produk-produk legislasi makro-ekonomi berkiblat pada pasar-investasi, serta minimnya dukungan politik kepada “rakyat”. Pemiskinan yang diakibatkan oleh proses globalisasi yang tak terhindarkan. Beberapa kebijakan yang dikondisikan oleh globalisasi khususnya kebijakan pasar bebas (lebih menguntungkan para kapitalis), harga BBM di pasar internasional yang kian melangit, “tekanan” kepada negara-negara miskin melalui Bank Dunia dan IMF, harga berbagai komoditas pangan di level perdagangan dunia bergejolak, serta meningkatnya individualitas.
Sebelum terjadi krisis ekonomi, Indonesia telah memiliki beban hutang yang besar dalam bentuk pinjaman luar negeri. Sampai tahun 2002 hutang Indonesia diperkirakan sebesar 262 milyar dolar AS. Menurut John Pilger, tidak ada hutang yang demikian besarnya di dunia ini. Hutang itu tidak akan pernah dapat dibayar karena merupakan sebuah lubang yang tak beralas (Pilger, 43; 2002). Terlebih lagi bagi para pemegang kekuasaan, termasuk legislatif. Mereka diberi otoritas oleh Rakyat, juga oleh Tuhan (vox vovuli vox Dei). Karena itu, hendaknya kekuasaan itu seluruhnya diperjuangkan untuk melayani rakyat, bukan melayani diri sendiri dan/atau kelompok (agama, suku, terlebih partai). Elite kekuasaan harus memiliki perilaku pelayan: populis, anti-pemiskinan, anti-feodalisme dan nepotisme, anti-korupsi, berkomitmen terhadap emansipasi kemanusiaan untuk semua orang. Politisi mesti “bersinergi” dengan pemerintah, berkiblat pada rakyat.
Pelayanan karitatif memang perlu (seperti BOS, Askeskin, Jamsostek, bukan BLT), tetapi program anti kemiskinan lebih diperlukan: program padat karya, penguatan kemandirian masyarakat melalui pengembangan UMKM, program stabilisasi harga, dan subsidi kepada para petani. Regulasi untuk mengurangi kesenjangan pengggajian sangat mendesak (contoh saat ini: Dirut BUMN Rp 100 juta/bulan; guru besar di Perguruan Tinggi Rp 3 - 5 juta/bulan; buruh pabrik Rp 900 ribuan). Berbagai pungli dan “setoran” diberantas dan hukum ditegakkan demi memberi kepastian orang untuk berinvestasi. Pemberantasan korupsi dilakukan dengan tegas dan berani. “Pembersihan” di kalangan para polisi, jaksa, dan hakim adalah wajib hukumnya. Belanja sosial di dalam APBN diberikan secara proporsional, bukan dikurangi.
Teringat dengan perkataan Gustavo Gutierrez, “Kaum miskin merupakan hasil sebuah sistem di mana kita hidup dan bertanggungjawab. Mereka disingkirkan dunia sosial dan kultural kita. Mereka adalah kaum yang ditindas, proletar yang dihisap, yang hasil kerja mereka dicuri dan kemanusiaan mereka diinjak-injak. Orang miskin tidak hanya mengalami kekurangan secara ekonomis tetapi juga kehilangan martabat manusia sebagai mahluk kultural yang autentik. Kemiskinan muncul akibat sistem sosial yang ada. Mereka kehilangan jaminan sosial dan ekonomis.
Bagimana dengan gereja-gereja di Indonesia menyikapinya? Gereja-gereja di Indonesia itu hebat, melihat gereja-gereja di Indonesia amat hidup. Kebaktian-kebaktian penuh dikunjungi warga jemaat. Pada hari-hari tertentu bahkan meluap tak tertampung. Gedung-gedung gereja baru dibangun terus di mana-mana, bagaikan jamur di musim penghujan. Ada yang megah ada pula yang amat sederhana. Tetapi rasanya berapa pun banyaknya gedung gereja dibangun, tidak pernah cukup. Ironis sekali, banyak gereja yang besar dan mewah tetapi tidak bisa berbuat apa-apa bagi lingkungannya. Dengan melihat kondisi sosial dan ekonomi Indonesia yang saat ini sangat memprihatinkan sekali. Sepertinya pemahaman beribadah yang dipahami hanya sebatas pergi ke gereja, dan menutup diri terhadap kehidupan yang ada di luar gereja.
Warga jemaat sibuk mencari bentuk yang baru kehadiran gereja, yang didasari lebih dari sekedar selera belaka ketimbang kesadaran kritis pemulihan dan pemberian makna bagi eksistensi gereja yang memudar. Gereja tidak bisa berbuat apa-apa di dalam menghadapi perubahan sosial dan perkembangan zaman. Ketiadaan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Menutup diri terhadap persoalan-persoalan dunia luar yang lebih luas, dan membiarkan diri terlarut dalam persoalan-persoalan internal yang tak habis-habisnya. Membesar-besarkan persoalan kecil; sebaliknya meremehkan persoalan yang besar. Gereja sering lupa pada tugas pokok kenapa ia ada di dunia ini. Ia tidak lagi menghayati hakikat dirinya sebagai pelaksana misi Allah bagi dunia ini, sebagai penyalur kasih Allah untuk dunia ini. Gereja mau memberi, kalau gereja sendiri sudah merasa berkecukupan. Nyanyian-nyanyian yang terdengar memang sangat indah dan menarik, upacara-upacara di dalamnya memang enak dilihat, arsitektur gedungnya indah, tetapi apakah kita merasa mendapatkan sesuatu di gereja? Gereja hanya hadir untuk dirinya, gereja hanya persekutuan yang eksklusif, gereja hanya memikirkan ketenteramannya sendiri. Sesuatu yang bukan mengherankan lagi jika banyak orang yang iri melihat kita, gedung gereja dihancurkan dan dibakar. Seperti yang diinformasikan Kepala Departemen Diakonia Pdt. Nelson Siregar, bahwa saat ini HKBP Depok tidak diberikan izin berdiri.
Yang sering menjadi kenyataan, pelayanan ke dalam kemudian menjadi tujuan pokok, dan pelayanan ke luar adalah pekerjaan sambilan kalau ada waktu dan dana yang tersisa. Memperkuat diri ke dalam tidak lagi menjadi alat melayani keluar. Sanggup membangun gedung-gedung indah tanpa risi melihat sesama yang hidup tanpa rumah, sanggup berpesta pora tanpa prihatin terhadap sesama yang menderita. Ketika kita sanggup bernyanyi, tanpa perlu membagi tawa dan ria pada sesama. Gereja harus bertanggung jawab untuk ambil bagian untuk menciptakan struktur masyarakat yang adil yang dimulai dengan protes atas kenyataan ketidakadilan yang ada. Gerakan kesetiakawanan dan solidaritas. Percaya diri dari kaum miskin sendiri, dalam hal ini spritualitas yang dikembangkan. Dari budaya sikap acuh tak acuh menjadi peduli dan memiliki rasa percaya diri untuk memperjuangkannya. Perlu ada bentuk solidaritas bersama dan dialog antar umat beragama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan memerangi kemiskinan.
Bagi konteks Indonesia, hal ini demikian relevan dengan kenyataan yang pluralistik. Kemiskinan adalah masalah bersama, yang harus ditanggulangi oleh masalah bersama, yang harus ditanggulangi oleh segenap komponen bangsa. Dengan melakukan Usaha Kesejahteraan Sosial dengan menggunakan pelayanan dalam bentuk, humanitarian aid, emergency response, dll. Bergerak juga dalam aras reformatif yaitu pada pemberdayaan masyarakat (community development) melalui usaha-usaha pendampingan pertanian, peternakan, credit union, usaha kecil dan tentunya dalam aras transformatif pada tingkat penyadaran akar rumput dan pengorganisasian masyarakat (community organizing), advokasi rakyat maupun kebijakan, bantuan hukum, kesadaran pluralisme, peace building dan resolusi konflik.
Kedatangan Yesus, utusan Allah, untuk mewartakan kabar baik kepada kaum miskin (lih. Luk 4:18) diyakini oleh para murid Yesus sebagai wujud kesetiaan Allah pada perjanjian yang sudah dianugerahkan kepada umat-Nya. Allah selalu setia terhadap janji-Nya, “Aku Allahmu, kamu umat-Ku,” juga kalau umat tidak setia. Yesus adalah Perjanjian Baru antara Allah dan kaum miskin, Good-poor partnership. Oleh karena itu, Yesus adalah tanda kontradiksi antara Allah dan mamon, God-Mammon conflict. Yesus diimani hadir terus sebagai Kristus yang hidup, Pribadi Kolektif (Corporate Person), yang dijadikan satu tubuh dengan para korban Mamon, dengan mereka yang merupakan wakil-wakil Kristus di dunia ini. Gereja menjadi gereja kalau bersatu dengan kaum miskin dan tertindas, kaum marginal, mereka yang menjadi korban mamon, orang-orang yang menderita. Sebagaimana Yesus adalah tanda kontradiksi antara Allah dan mamon, God-Mammon conflict, demikian pula selayaknya gereja yang menyandang simbol dan tubuh Kristus.
Kaum miskin adalah para korban mamon. Mereka itulah para wakil Kristus di dunia sekarang ini. Mereka adalah saudara-saudara Yesus yang paling hina. Kaum miskin kategori yang berlaku sebagai hakim eskatologis akhir zaman (Mat.25:36 dst). Mereka lah yang menerima cinta kasih kita dalam nama Kristus, dan oleh karena itu membuka pintu gerbang Kerajaan Allah bagi kita. Mereka terpaksa miskin. Para penyembah mamon mengatur rumah tangga dunia (oikonomia) ini secara keliru. Sebab utama kemiskinan mereka adalah interaksi yang tidak adil dalam masyarakat. Sebagaimana kaum kaya dan kaum miskin ini adalah para pendosa juga.
Kenyataan hidup mereka sebagai korban yang menderita merupakan satu-satunya dasar mengapa mereka dipilih. Kesucian mereka terletak dalam menanggapi panggilan sebagai mitra perjanjian Allah, sebagai kekuatan yang membebaskan dalam dunia. Kaum miskin yang lain adalah para pengikut Kristus, para penolak mamon. Mau hidup misik secara sukarela untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah sebagaimana yang ditawarkan oleh Yesus. Kemiskinan yang sering disebut kemiskinan injili, sebab dijalani demi injil. Memberitakan Kabar Gembira
Kerajaan Allah kepada kaum miskin (kategori pertama). Kaum miskin injili menerima tugas pengutusan melalui solidaritas terhadap mereka yang secara sosial miskin. Kaum miskin katergori yang inilah yang dimaksud para pengikut Yesus dan para penolak mamon. Love is Action, Cinta Kasih adalah Tindakan. Adanya pergeseran penalaran yakni dari kepedulian akan hak milik pribadi ke kepedulian terhadap kaum miskin. Gereja yang memihak kepada kaum miskin merupakan wujud gereja kaum miskin yang setia kepada Yesus Kristus, yang miskin dan rendah. Gereja semacam itu akan berusaha berada bersama Yesus sebagai wujud kehadiran Allah dan tindak konflik antara Allah dan mamon.
Penulis sekarang bertugas di Kantor Pusat HKBP
Sekretaris Khusus Kadep Diakonia HKBP
1 komentar:
mungkinkah ini hidup kembali dengan generasi baru??
bravoo youth.gg
*4 tahun yang lalu..
Posting Komentar